Free songs

Karbon Dioksida: Kawan atau Lawan?

Karbon dioksida (CO2) merupakan komponen terbesar bertanggungjawab atas peningkatan suhu bumi atau apa yang oleh para ahli disebut sebagai global warming effect. Meski sebagian ilmuan masih meragukan teori tersebut, namun fakta bahwa konsentrasi gas rumah kaca yang meningkat dari tahun ketahun dan suhu bumi yang terus meningkat adalah dua hal yang tidak bisa kita pungkiri. Selama satu milenium terakhir konsentrasi gas karbon dioksida meningkat sebanyak 1.5 ppm pertahun yang artinya apabila terdapat total 5.3 x 1021 gram udara di atmosfir, maka peningkatan jumlah karbon dioksida pertahunnya mencapai sekitar 8 ton pertahun.1 Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakseimbangan antara peningkatan gas buang industri dan penggunaan bahan bakar minyak terhadap peningkatan jumlah pepohonan di dunia.

Namun demikian memandang karbon dioksida sebagai musuh yang ditakuti untuk kemudian menyerah kalah bukanlah sebuah pandangan yang bijaksana. Berdamai dengan karbon dioksida, mencari cara alternative untuk menjadikan karbon dioksida sebagai bahan yang bermanfaat bagi makhluk hidup dinilai para pengambil kebijakan sebagai langkah antisipatif yang lebih bermanfaat.  Para peneliti sejak beberapa decade terakhir terus mencari cara untuk menggunakan karbon dioksida dalam berbagai kebutuhan baik secara langsung maupun sebagai bahan baku dalam reaksi kimia seperti digambarkan dalam skema sederhana gambar 1.

Karbon dioksida dapat dimanfaatkan secara langsung untuk berbagai keperluan. Membekukannya hingga -78.50C dapat menjadikan karbon dioksida menjadi dry ice yang biasa digunakan untuk pendingin eskrim atau sebagai property panggung untuk memberikan efek asap dalam pertunjukan teater. Karena karbon dioksida merupakan senyawa yang relative stabil dan tidak mempunyai nilai bakar, dia dapat pula digunakan sebagai gas untuk injeksi pneumatic di alat alat industry dan alat pemadam api portable di gedung gedung perkantoran. Selain itu karbon dioksida dalam tekanan tinggi yang dimasukkan kedalam minuman membuat minuman tersebut menjadi minuman bersoda, seperti coca-cola dan pepsi. Peran karbon dioksida pada minuman ini adalah untuk memberikan sensasi ledakan ledakan kecil dimulut sehingga terasa lebih menyegarkan.

Dalam industri perminyakan, karbon dioksida digunakan sebagai enhancement oil recovery agent. Di Kanada misalnya, Conovus Oil menginjeksikan sebanyak 18 juta ton karbon dioksida sehingga ter-recovery minyak bumi sebanyaj 130 juta barrel. Metode ini juga pada akhirnya mampu memanjangkan usia ladang minyak tersebut selama  25 tahun lebih lama.

Sementara itu, untuk penggunaan karbon dioksida secara tidak langsung (penggunaan karbon dioksida sebagai bahan baku reaksi), ada sangat pilihan reaksi untuk menggunakan karbon dioksida.  Penjelasan mengenai berbagai jalan reaksi untuk mengkonversi karbon dioksida menjadi bahan-bahan lain yang memiliki nilai tambah akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

Salah satu cara yang paling menjanjikan untuk memanfaatkan karbon dioksida secara tidak langsung adalah dengan mengubahnya menjadi synthesis gas (syngas) melalui reaksi carbon dioxide reforming. Reaksi ini berusaha menggantikan peran steam reforming yang biasa digunakan untuk mensuplai syngas karena punya dua keunggulan; (i) syngas yang diproduksi oleh reaksi ini memiliki rasio H2/CO yang rendah yang memudahkan untuk dikonversi menjadi zat kimia lain seperti methanol dll, (ii) proses ini mampu menurunkan konsentrasi gas rumah kaca di udara. Syngas sendiri adalah zat antara yang digunakan untuk membuat syntetic fuel (bahan bakar syntetis), methanol dan ammonia.

Selain menggunakan karbon dioksida sebagai zat yang memiliki nilai guna, untuk menghindari dampak lebih lanjut dari dari tingginya konsentrasi karbon dioksida ini dilakukan pula usaha “menangkap” dan mengumpulkan karbon dioksida untuk kemudian diinjeksikan kedalam perut bumi. Usaha ini dikenal sebagai carbon capture and storage (carbon capture and sequestration). Selain untuk mengurangi konsentrasi karbon dioksida diudara, para ilmuan berpendapat bahwa karbon dioksida didalam tanah ini akan sangat berguna untuk dimanfaatkan kembali suatu saat ketika dibutuhkan.

Kendatipun semua hal telah diusahakan untuk mengurangi jumlah konsentrasi karbon dioksida di undara baik untuk keperluan komersil maupun untuk penjagaan lingkungan, semua usaha yang telah dilakukan belum mampu mengkonversi karbon dioksida menjadi oksigen seperti yang dilakukan oleh pepohonan. Usaha usaha perbaikan hutan, penanaman pohon dan pelestarian alam senantiasa tetap menjadi satu satunya cara yang bisa diandalkan untuk mengubah karbon dioksida menjadi oksigen.

Referensi:

  1. Budiman, A. wahyu, Song, sang hoon, Chang, tae sun, Shin, chae ho & Choi, M. jae. Dry Reforming of Methane Over Cobalt Catalysts : A Literature Review of Catalyst Development. Catal. Surv. from asia 16, 183–197 (2012).
  2. Omae, I. Aspects of carbon dioxide utilization. Catal. Today 115, 33–52 (2006).

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*